Cerita Featured Kisah Kyai Pamungkas Uncategorised Uncategorized

Kisah Kyai Pamungkas: MISTERI KIDUNG ANAK AMBAR

Kisah Kyai Pamungkas: MISTERI KIDUNG ANAK AMBAR

Setiap malam tiba kidung pilu itu selalu terdengar dengan alunan merdu. Rupanya, kidung itu berasal dari alam halus miliki arwah anak-anak bajang…

 

Jika malam mulai larut, senandung suara anak kecil itu terdengar mendayu-dayu, menusuk ulu hati yang paling dalam. Maknanya sulit dicerna, tetapi iramanya menunjukkan atau mengandung kesan sebagai cetusan hati sanubari yang gelisah. Seperti kidung seseorang yang sedang dilanda duka nestapa. Siapakan pelantun kidung tersebut? Tak seorangpun pernah tahu.

 

Yang jelas, setiap pukul sebelas malam kidung itu pasti menghiasi keheningan. Sepanjang malam tak henti-hentinya. Berkali-kali Kang Somad mengajakku menyelidiki siapa pemilik suara itu. Tetapi usaha kami tak pernah berhasil. Memang jelas suara itu berasal dari Selatan, tetapi jika datangi ke arah sana, tiba-tiba saja pindah ke sebelah Barat. Begitu seterusnya, sehingga Kang Somad berhasrat untuk melakukan tirakat agar menemui si pemilik kidung yang sendu mendayu itu.

 

“Jangan-jangan yang ngidung itu siluman, Man. Tetapi herannya, kenapa suaranya kecil sekali? Coba perhatikan kadang-kadang suaranya seperti bocah menangis,” ujar Kang Somad suatu ketika.

 

“Bukan siluman, Kang Somad, tetapi itu sejenis lelembut yang juga disebut Kemamang,” kata Tukiman.

 

“Mungkin juga begitu. Tetapi kau ingat, beberapa waktu lalu Mas Kohar juga mencoba untuk mengungkap misteri kidung itu, tetapi ternyata sia-sia,” timpalku.

 

Aku ingat betul waktu Mas Kohar mengajakku untuk melacak suara kidung itu, justru kami menjadi bingung tak tahu arah, sehingga semalam suntuk terpaksa berputar-putar di sekitar Bukit Gundul. Karena itulah akhirnya aku beranggapan bahwa yang melantunkan kidung itu bukan anak manusia, melainkan mahluk halus. Ada yang mengatakan bahwa itu kidung trethekan. Ada yang mengatakan kidung siluman Gunung Kendil. Dan ada pula yang mengatakan kidung siluman Gunung Kendo. Entah mana yang benar. Sejauh ini belum ada seorang pun yang bisa menyimpulkannya.

 

Malam ini, barangkali merupakan saat-saat missi kami yang kesekian kalinya untuk mengadakan penyelidikan tentang pemilik kidung itu. Jauh-jauh hari kami telah membuat berbagai perhitungan agar kali ini tidak mengalami kegagalan. Dalam hal waktu misalnya, kami tentukan pada malam Jum’at Wage. Karena menurut keterangan orang-orang tua, hari Jum’at Wage merupakan hari kelahiran para lelmbut. Sampai dimana kebenarannya, aku sendiri tidak tahu.

 

“Penyelidikan kali ini pasti berhasil. Aku telah menyelesaikan puasa ngeb/eng selama tujuh hari tujuh malam,” kata Kang Somad. Aku sendiri mencoba untuk menjalankan puasa ngebleng itu selama €nam hari enam malam, sesuai pesan Pak Cokro kalau aku ingin melihat lelembut. Sayang pada malam pertengahan Saja sudah gagal. Entah mengapa waktu itu aku benar-benar tak bisa menahan nafsu. Padahal, itu sebenarnya adalah godaan yang perlu diatasi.

 

Sekitar pukul sebelas malam, kidung yang begitu menyentuh hati itu mulai terdengar. Namun tidak seberti yang sudah-sudah, kali ini persis suara anak kecil yang menyesali sesuatu kejadian dengan amat sangat. Kami, terdiri dari lima orang, segera menuju ke arah suara itu. Pak Cokro sebagai pimpinan, berada paling depan.

 

Langit malam itu cukup cerah. Bulan pun sedang purnama. Di sana-sini masih terdengar suara lesung ditabuh orang. Dan semakin malam orang-orang yang menabuh lesung, yang oleh masyarakat daerahku disebut Kkotekan itu, tampaknya bertambah semangat.

 

Menurut keterangan Pak Cokro, suara lesung itu bukan dilakukan orang yanga sedang menumbuk padi, melainkan oleh para siluman.

 

“Mana ada sudah lewat tengah malam begini orang masih Kotekan. Coba perhatikan suara lesung itu, seolah-olah ditabuh secara nonstop. Kalau orang menumbuk padi, tentu ada temponya. Iramanya pun jauh berbeda,” kata Pak Cokro.

 

“Barangkali itu kesenian lesung, Pak!” ujarku.

 

“Kalau kesenian lesung, ada iramanya sendiri-sendiri. Misalnya irama “Asu jegog’ (anjing menggonggong), kemudian Asu gancet'(anjing kawin), nangka jatuh, dan lain sebagainya. Kalau kita resapkan betul-betul, irama Kotekan itu sangat bagus. Iramanya sangat apik. Tetapi kalau koteken yang dilakukan para lelembut, bercampur baur dan tidak memakai tempo,” jawab orang tua itu. Pak Cokro memang dikenal sebagai tokoh kesenian kampung kami, selain sebagai ahli supranatural.

 

Setibanya kami di Bukit Gundul, Pak Cokro mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Ternyata berisi kembang setaman. Setelah itu sebuah gelas kecil berisi air di keluarkan pula dan dibacakan mantera. Dengan air tersebut Pak Cokro lalu mengUsap wajah kami. Sungguh sejuk sekali.

 

Tidak berapa lama aku merasakan ada sesuatu yang sangat aneh. Aku seperti berada di alam lain. Kang Somad yang berada disamping Pak Cokro beranjak mendekatiku. “Kita pusatkan pikiran kita berdua menjadi satu,” bisiknya.

 

Kami lalu merapatkan kedua belah tangan. Demikian pula dengan Kang Solikun dan Pak Karto. Apa yang kami lihat? Sekelompok bocah sedang berjalan membentuk lingkaran, sehingga bukit yang gundul itu menjadi semacam arena bermain. Mereka menyanyikan lagu-lagu berirama pilu, dengan suara melengking tinggi tanpa nada yang teratur.

 

“Inilah dunia lelembut. Bocah-bocah bajang (Anak ambar) ini sedang menyanyikan lagu untuk sang pemimpin yang berada di tengah-tengah lingkaran itu. Perhatikan, kadang-kadang lingkaran mereka melebar, lalu bersatu. Gerakan mereka persis gerakan ubur-ubur di lautan,” kata Pak Cokro.

 

“Kalau begitu….” kata Kang Somad. Ia ragu melanjutkan kata-katanya.

 

“Kau baru percaya bahwa dunia lelembut itu memang ada?” potong Pak Cokro. “Di sini merupakan tempat berkumpulnya bocah-bocah bajang, yang tercipta akibat kelalaian kita sendiri.”

 

“Maksud Pak Cokro?” tanyaku tidak mengerti.

 

“Orang-orang tua kita yang lalai dengan tanggung jawabnya. Bocahbocah ini adalah jelmaan dari anak-anak kita yang mati sebelum cukup waktunya untuk lahir.”

 

“Maksud Pak Cokro, anak-anak yang mati karena keguguran?” tanya Kang Somad.

 

“Ya. Biasanya kita kurang menaruh perhatian kepada mereka. Kurang memperhatikan kuburannya, dan tidak pernah megirimi bunga pada mereka. Sehingga mereka seolah-olah kehilangan pegangan dan mb/ayang,” jelas Pak Cokro.

 

Menurut Pak Cokro, Bukit Gundul ini merupakan tempat penampungan bagi bocah-bocah bajang yang sering mengganggu orang.

 

“Yang mereka nyanyikan itu merupakan kidung ungkapan hati sanubari mereka. Kidung permohonan agar nasib mereka diperhatikan. Sehingga iramanya mendayu-dayu, terkadang begitu pilu bila diresapkan. Oleh karena itu, jika istri kalian keguguran, jangan sia-siakan kuburan si calon bayi. Sebab sebenarnya mereka banyak membawa berkah buat kita jika kuburannya dirawat dengan baik,” jelas Pak Cokro sambil mengajak kami pulang.

 

Dari pengalaman itu, tahulah kami sekarang bahwa suara kidung yang selalu memecah keheningan malam itu adalah kidung bocah-bocah bajang dari Bukit Gundul. Dan Kang Somad yang selama ini tidak pernah percaya bahwa dunia lelembut itu memang ada, sekarang benar-benar mempercayainya.

 

Sejak kejadian ini, kami mencoba Untuk tidak memperdulikan lagi suaraSuara kidung di tengah malam buta itu. Namun, setiap malam Jum’at dengan bimbingan Pak Cokro kami selalu mengirim doa kepada mereka. Kami berharap suara-suara itu segera hilang, sehingga masyarakat tidak perlu lagi terganggu tidurnya. Wallahu a’lam bissawab. ©️KyaiPamungkas.

Paranormal Terbaik Indonesia

KYAI PAMUNGKAS PARANORMAL (JASA SOLUSI PROBLEM HIDUP) Diantaranya: Asmara, Rumah Tangga, Aura, Pemikat, Karir, Bersih Diri, Pagar Diri, dll.

Kami TIDAK MELAYANI hal yg bertentangan dengan hukum di Indonesia. Misalnya: Pesugihan, Bank Gaib, Uang Gaib, Pindah Janin/Aborsi, Judi/Togel, Santet/Mencelakakan Orang, dll. (Bila melayani hal di atas = PALSU!)

NAMA DI KTP: Pamungkas (Boleh minta difoto/videokan KTP. Tidak bisa menunjukkan = PALSU!)

NO. TLP/WA: 0857-4646-8080 & 0812-1314-5001
(Selain 2 nomor di atas = PALSU!)

WEBSITE: bomoh.online
(Selain web di atas = PALSU!)

NAMA DI REKENING/WESTERN UNION: Pamungkas/Niswatin/Debi
(Selain 3 nama di atas = PALSU!)

ALAMAT PRAKTEK: Jl. Raya Condet, Gg Kweni No.31, RT.01/RW.03, Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur.
(Tidak buka cabang, selain alamat di atas = PALSU!)


Related posts

HARMONISASI RUMAH TANGGA DENGAN MENATA FENGSUI RUMAH

adminbomoh

Kisah Kyai Pamungkas: HANTU USIL WISMA GADING PERMAI

adminbomoh

Ngaji Psikologi: TRANSFORMASI SIKAP

KyaiPamungkas
error: Content is protected !!